Haloapakabar pembaca JawabanSoal.id! Kamu sedang ada di halaman yang tepat jikalau kita sedang mencari jawaban atas soal berikut : kapan dan dimana peristiwa dalam cerita robohnya surau kami itu terjadi. Kita sering ingin tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Terkadang kita membutuhkan suatu jawaban yang sebenar benarnya tentang
Padacerita “Robohnya Surau Kami”, tergambarkan sekali kehidupan masyarakat Minangkabau. Cerita ini sangat mengagumkan hingga membuat buku ini terkenal sepanjang masa. Salah satu cerpen karya A.A. Navis seperti “Anak Kesayangan” juga memilki akhir yang sangat memilukan dan menyedihkan. Seorang ayah yang ingin anak kesayanganya menjadi
CerpenRobohnya Surau Kami merupakan cerita berbingkai yang menyodorkan dua tokoh protagonis: Kakek dan Haji Saleh. Kakek adalah seorang garin, penjaga surau, yang disindir oleh Ajo Sidi dengan cerita mengenai Haji Saleh, yang gagal masuk surga karena dinilai egois. Dipicu oleh sindiran Ajo Sidi, Kakek bunuh diri dengan menggorok lehernya. Oleh
Sinopsis resensi, analisis, dan ringkasan karya sastra Angkatan 1950 – 1960 an Karya-karya yang ada di sebagian atau ringkasan semata, untuk memudahkan para pengunjung dalam meninjau karya sastra yang agung. Tapi untuk novel dan puisi lengkap, silahkan beli buku-bukunya. Demi menghargai usaha keras, jiwa seni yang
SINOPSISDAN ANALISIS CERPEN "ROBOHNYA SURAU KAMI". Cerpen karya A.A. Novis yang mengisahkan seorang kakek Garin, yang meninggal secara mengenaskan yaitu membunuh diri akibat dari mendengar cerita bualan seseorang yang sudah dikenalnya, ternyata cukup memikat siapapun yang membacanya. Karena daya pikat itu, peneliti mencoba
ViewRingkasan Cerpen Robohnya Surau ART MISC at St. John's University. Haji Saleh yang dulunya sering beribadah dan sudah ibadah haji Bersama teman temannya malah masuk ke neraka. Tak
HajiAli Akbar Navis (17 November 1924 – 22 Maret 2003; dikenal dengan nama A.A. Navis) adalah seorang sastrawan, budayawan, pelukis, dan politisi Indonesia asal Sumatra Barat.Ia terkenal karena cerita pendeknya Robohnya Surau Kami (1956).. Biografi. Ali Akbar Navis lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang pada 17 November 1924. Ia menyelesaikan studi di Ruang
Robohnyasurau kami merupakan judul kumpulan cerita pendek a.a. Manfaatnya selain memberikan kenikmatan dan hiburan, dia juga dapat mengembangkan imajinasi, memberikan pengalaman pengganti, mengembangkan. Source: asepsopyan.com. Saat ini banyak masjid yang menyediakan takjil di bulan puasa, atau makanan selepas sholat jumat.
Sinopsisadalah ringkasan cerita (novel, cerpen, drama). Parafrase adalah pengungkapan kembali isi uraian puisi. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam memahami isi puisi. CONTOH ANALISIS CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI . ANALISIS CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK a. Unsur
Ringkasankalau beberapa tahun yang lalu tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis ,tuan akan berhenti di dekat pasar. Robohnya surau kami “karya aa. Source: id.scribd.com. Gramedia pustaka utama dimensi : 18 september 2018 by ekanursetia. Source: alifahrnh049.blogspot.com. Secara umum cerpen robohnya surau kami karya aa.
analisiscerpen robohnya surau kami. June 12, 2010 ramlannarie bahasa indonesia 3 Comments Latar Belakang Masalah Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manIaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian
ROBOHNYASURAU KAMI. RINGKASAN : Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin. Meskipun orang ini dapat hidup karena
APpUs. Origin is unreachable Error code 523 2023-06-16 122337 UTC What happened? The origin web server is not reachable. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Check your DNS Settings. A 523 error means that Cloudflare could not reach your host web server. The most common cause is that your DNS settings are incorrect. Please contact your hosting provider to confirm your origin IP and then make sure the correct IP is listed for your A record in your Cloudflare DNS Settings page. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d8306517c2c0eab • Your IP • Performance & security by Cloudflare
Kakek, begitu orang-orang di kampung itu adalah seorang garin di sebuah surau tua. Kakek hidup seorang diri,tanpa istri,anak,dan sanak adalah muslim yang taat. Hidupnya selalu diisi dengan beribadah. Sebagai garin, beliau tidak mendapatkan imbalan apa-apa. Beliau hidup dari hasil sedekah yang dikumpulkannya tiap Jum’ enam bulan, beliau memperoleh hasil pemunggahan ikan di kolam dekat surau. Setiap Lebaran, ia mendapat zakat fitrah dari orang-orang sekitar. Selain itu, Kakek juga ahli mengasah karena itu, banyak orang minta tolong pada Kakek untuk mengasahkan pisau dengan memberi sedikit imbalan. Begitulah kehidupan Kakek selama bertahun-tahun. Sampai pada suatu hari, beliau dikunjungi oleh seorang pembual terkenal di kampung itu,Ajo Sidi. Ajo Sidi membual tentang seseorang yang setiap hari hanya beribadah saja,tanpa memperhatikan kehidupan di akhirat,Tuhan memasukkannya ke neraka karena perbuatannya itu. Tentu saja Kakek merasa amat tersinggung mendengar bualan itu. Kakek sangat marah,namun ditahannya kemarahan itu. Sayang,keesokan harinya,Kakek ditemukan tewas bunuh diri di surau. Ajo Sidi yang mengetahui peristiwa tersebut malah bersikap acuh tak acuh. Beliau hanya berpesan agar jenazah Kakek dilapisi kain kafan sebanyak tujuh lapis. Setelah itu, Ajo Sidi berangkat kerja. Bertahun-tahun setelah kematian Kakek,surau itu menjadi tidak terurus. Bahkan, para perempuan yang membutuhkan kayu bakar mencopoti papan surau itu pada malam hari. Anak-anak di kampung itu pun sering bermain-bermain di dalam surau itu,menambah lapuknya kayu-kayu di tempat yang dulu dianggap orang-orang tempat suci itu. Cerita pendek ini menceritakan tentang Ompi,seorang pensiunan klerk di kantor Residen. Beliau sangat menyayangi anak semata wayangnya, Indra Budiman. Beliau begitu berharap agar sang anak suatu hari menjadi orang sukses. Menjadi dokter,atau paling tidak menjadi insinyur. Begitulah harapan dan mimpinya selalu. Ketika Indra Budiman berangkat ke Jakarta untuk meneruskan sekolahnya di SMA,Ompi merasa yakin bahwa mimpi-mimpinya itu akan segera tercapai. Apalagi,setiap penerimaan rapor, Indra Budiman selalu mengirimkan rapor dengan nilai-nilai yang sangat mampu menamatkan sekolahnya hanya dalam waktu dua tahun dengan nilai yang sangat memuaskan,kemudian melanjutkan pendidikannya untuk menjadi dokter. Bertambah giranglah hati Ompi. Namun, kegembiraan hati Ompi itu hanyalah angan-angan semu. Sebenarnya,sang anak telah rusak karena pergaulan di Jakarta. Selama ini, Indra Budiman telah membohongi sang ayah dengan surat-surat,nilai-nilai rapor,dan ijazah palsu. Tentu saja, orang-orang kampung mengetahui prilaku Indra Budiman di rantau sana. Mereka berusaha memberitahu Ompi tentang hal itu,namun Ompi tidak percaya. Beliau malah memaki orang yang mengabarkan berita itu. Akhirnya,orang-orang kampung di Jakarta sana memutuskan untuk berbohong tentang keadaan Indra Budiman yang sebenarnya ketika mereka pulang kampung dan ditanyai oleh Ompi. Mereka malah mengabarkan bahwa Indra Budiman adalah anak yang rajin dan juga disukai oleh banyak gadis. Mendengar itu, bertambah gembiralah hati Ompi dengan berita-berita bohong itu. Beliau membangga-banggakan anaknya kepada gadis-gadis kampung. Beliau bahkan marah apabila ada orang tua yang mengawinkan anak gadis cantiknya dengan pria lain tanpa mempedulikan anaknya terlebih dahulu. Dalam suratnya, Ompi mengabarkan bahwa sudah banyak gadis yang ingin melamarnya. Sang anak malah percaya dengan kabar ayahnya itu. Ia lupa bahwa hidup bejatnya telah diketahui oleh seluruh orang kampung,kecuali ayahnya,tentu saja. Ia malah meminta ayahnya untuk mengirimkan foto gadis yang ingin itu, panggung sandiwara pun berubah. Sekarang sang ayah yang membohongi anaknya. Ia mengirimkan foto gadis-gadis cantik, baik yang belum menikah ataupun sudah, baik yang masih hidup,ataupun sudah meninggal. Namun,setelah beberapa lama, surat-surat dari Indra Budiman tak pernah datang lagi. Ompi menjadi gelisah. Beliau mengirimkan surat lagi kepada anaknya. Dikirimnya dan dikirimnya terus,namun tak pernah ada balasan. Suatu hari, datanglah Pak Pos mengantarkan surat-surat untuk Ompi. Betapa gembira hati Ompi. Sayang, ternyata surat-surat itu adalah surat-surat yang dikirimnya dulu. Sejak itu, Ompi jatuh setiap hari, pada pukul empat sampai pukul lima sore, Ompi selalu seperti orang sehat. Beliau duduk di teras sambil menantikan Pak Pos. Malangnya, Pak Pos tak kunjung mengantarkan surat untuk beliau. Ompi semakin bertambah sakit,lumpuh. Sejak itu, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Suatu hari,pukul sebelas pagi,Pak Pos datang. Bukan mengantar surat,tapi mengantar telegram. Entah mengapa,Ompi yang ketika itu lumpuh bisa berdiri dan berjalan mendekati Pak Pos. Beliau merasa sangat bahagia. Beliau yakin bahwa isi telegram itu adalah kabar bahwa Indra Budiman telah lulus dan menjadi telegram itu mengabarkan bahwa Indra Budiman telah tidak mau membaca isi telegram itu. Ompi takut ia akan mati karena terlalu bahagia membaca telegram itu. Ia malah menciumi telegram itu dengan penuh sayangSeorang kakek tua mendapat kiriman surat dari anak semata wayangnya. Dalamsuratnya, sang anak meminta ayahnya untuk berkunjung ke rumahnya. Sang anak mengabarkan bahwa ia telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Tentu tak terkira senang hati orang tua itu. Betapa tidak, anak yang dulu telah dibuangnya sia-sia malah mengundangnya untuk datang. Sedikit rasa malu dan sesal menyelinap dalam hatinya,mengingat masa lalunya yang kelam. Dulu,ketika anaknya,Masri,masih berumur tiga tahun,sang istri meninggal dunia. Betapa sedihnya hati orang tua itu. Ia merasa sangat kesepian. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menikah lagi. Namun,rumah tangga barunya tidak berjalan harmonis. Ia masih terkenang juga akan istri lamanya yang tercinta. Hal tersebut memicu konflik berkepanjangan. Hingga akhirnya,beliau menceraikan istri keduanya. Padahal, sang istri sedang mengandung. Setelah bercerai, orang tua itu menikah lagi. Lalu bercerai lagi. Menikah lagi,bercerai lagi. Sampai akhirnya, orang tua itu bosan menikah. Beliau akhirnya melakukan perbuatan terlarang dengan banyak wanita bayaran. Perbuatan orang tua itu akhirnya diketahui oleh Masri. Namun,beliau malah marah dan mengusir sang anak. Sang anak pun pergi dan tak pernah kembali. Setelah kepergian sang anak, orang tua itu merasa sangat menyesal. Beliau pun menjual seluruh harta kekayaannya dan mewakafkannya pada orang banyak. Kemudian beliau pergi ke dusun yang jauh dan tinggal di masjid. Beliau menghabiskan hidupnya dengan beribadah,sambil terus berusaha untuk mengajak masyarakat di dusun itu hidup dengan damai. Begitu terus selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari, orang tua itu menerima surat dari sang anak,memintanya untuk datang ke rumah sang anak. Hatinya merasa ragu. Beliau merasa sangat malu. Sampai empat kali, surat itu terus datang,berisi permintaan yang sama. Tak satupun dibalasnya surat-surat itu. Akhirnya,setelah berpikir sekian lama, orang tua itu pun memutuskan untuk memenuhi permintaan sang anak. Dibuangnya semua rasa malu dan takut. Yang beliau harapkan kini hanyalah maaf dari sang anak. Namun, alangkah terkejutnya beliau ketika tiba di depan rumah sang anak. Mantan istrinya yang kedua,Iyah, yang telah diceraikan dan diusirnya ketika masih mengandung dulu, berdiri berkacak pinggang menyambutnya dengan muka masam. Iyah mengatainya dengan perkataan yang menyakitkan hati. Karena tak ingin bertengkar di rumah anaknya, orang tua itu menahan segala marah dan kesombongannya. Namun,akhirnya beliau dipersilakan masuk dengan terpaksa oleh Iyah. Kemudian, Iyah kembali mencercanya dengan berbagai macam sindiran. Sampai akhirnya, terungkaplah rahasia bahwa Arni,menantuny itu, adalah anak kandungnya. Artinya Masri dan Arni bersaudara. Orang tua itu terkejut dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki muda. Namun, tiba-Seorang kakek tua mendapat kiriman surat dari anak semata wayangnya. Dalamsuratnya, sang anak meminta ayahnya untuk berkunjung ke rumahnya. Sang anak mengabarkan bahwa ia telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Tentu tak terkira senang hati orang tua itu. Betapa tidak, anak yang dulu telah dibuangnya sia-sia malah mengundangnya untuk datang. Sedikit rasa malu dan sesal menyelinap dalam hatinya,mengingat masa lalunya yang kelam. Dulu,ketika anaknya,Masri,masih berumur tiga tahun,sang istri meninggal dunia. Betapa sedihnya hati orang tua itu. Ia merasa sangat kesepian. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menikah lagi. Namun,rumah tangga barunya tidak berjalan harmonis. Ia masih terkenang juga akan istri lamanya yang tercinta. Hal tersebut memicu konflik berkepanjangan. Hingga akhirnya,beliau menceraikan istri keduanya. Padahal, sang istri sedang mengandung. Setelah bercerai, orang tua itu menikah lagi. Lalu bercerai lagi. Menikah lagi,bercerai lagi. Sampai akhirnya, orang tua itu bosan menikah. Beliau akhirnya melakukan perbuatan terlarang dengan banyak wanita bayaran. Perbuatan orang tua itu akhirnya diketahui oleh Masri. Namun,beliau malah marah dan mengusir sang anak. Sang anak pun pergi dan tak pernah kembali. Setelah kepergian sang anak, orang tua itu merasa sangat menyesal. Beliau pun menjual seluruh harta kekayaannya dan mewakafkannya pada orang banyak. Kemudian beliau pergi ke dusun yang jauh dan tinggal di masjid. Beliau menghabiskan hidupnya dengan beribadah,sambil terus berusaha untuk mengajak masyarakat di dusun itu hidup dengan damai. Begitu terus selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari, orang tua itu menerima surat dari sang anak,memintanya untuk datang ke rumah sang anak. Hatinya merasa ragu. Beliau merasa sangat malu. Sampai empat kali, surat itu terus datang,berisi permintaan yang sama. Tak satupun dibalasnya surat-surat itu. Akhirnya,setelah berpikir sekian lama, orang tua itu pun memutuskan untuk memenuhi permintaan sang anak. Dibuangnya semua rasa malu dan takut. Yang beliau harapkan kini hanyalah maaf dari sang anak. Namun, alangkah terkejutnya beliau ketika tiba di depan rumah sang anak. Mantan istrinya yang kedua,Iyah, yang telah diceraikan dan diusirnya ketika masih mengandung dulu, berdiri berkacak pinggang menyambutnya dengan muka masam. Iyah mengatainya dengan perkataan yang menyakitkan hati. Karena tak ingin bertengkar di rumah anaknya, orang tua itu menahan segala marah dan kesombongannya. Namun,akhirnya beliau dipersilakan masuk dengan terpaksa oleh Iyah. Kemudian, Iyah kembali mencercanya dengan berbagai macam sindiran. Sampai akhirnya, terungkaplah rahasia bahwa Arni,menantuny itu, adalah anak kandungnya. Artinya Masri dan Arni bersaudara. Orang tua itu terkejut dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki tahu isi telegram yang sebenarnya,juga kebohongan-kebohongan yang telah dirangkai dengan manis oleh Indra Budiman,anak semata wayangnya. Orang-orang tua, tentu saja,gemar memberi nasihat. Seperti halnya pada tokoh orang tua dalam cerpen Navis ini. Ketika Hasibuan,seorang anak muda yang tinggal menumpang di kamar depannya meminta nasihat,beliau dengan senang hati memberikan nasihatnya yang berharga. Hasibuan menceritakan bahwa ia bertemu gadis desa di bus dalam perjalanan ke kantor pagi bercakap-cakap sebentar,tentunya tentang hal-hal yang tidak berarti. Namun,ketika akan berpisah, gadis tersebut tak mau ditinggalkan. Akhirnya Hasibuan menitipkan gadis itu pada kenalannya di tepi kota dan berjanji menemui gadis tersebut keesokan harinya. Orang tua itu pun memberikan nasihat untuk tidak menemui gadis tersebut karena beliau yakin bahwa gadis itu kurang waras. Esoknya,saat makan siang sepulang kerja,orang tua itu pun bertanya pada Hasibuan tentang gadis Seorang kakek tua mendapat kiriman surat dari anak semata wayangnya. Dalamsuratnya, sang anak meminta ayahnya untuk berkunjung ke rumahnya. Sang anak mengabarkan bahwa ia telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Tentu tak terkira senang hati orang tua itu. Betapa tidak, anak yang dulu telah dibuangnya sia-sia malah mengundangnya untuk datang. Sedikit rasa malu dan sesal menyelinap dalam hatinya,mengingat masa lalunya yang kelam. Dulu,ketika anaknya,Masri,masih berumur tiga tahun,sang istri meninggal dunia. Betapa sedihnya hati orang tua itu. Ia merasa sangat kesepian. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menikah lagi. Namun,rumah tangga barunya tidak berjalan harmonis. Ia masih terkenang juga akan istri lamanya yang tercinta. Hal tersebut memicu konflik berkepanjangan. Hingga akhirnya,beliau menceraikan istri keduanya. Padahal, sang istri sedang mengandung. Setelah bercerai, orang tua itu menikah lagi. Lalu bercerai lagi. Menikah lagi,bercerai lagi. Sampai akhirnya, orang tua itu bosan menikah. Beliau akhirnya melakukan perbuatan terlarang dengan banyak wanita bayaran. Perbuatan orang tua itu akhirnya diketahui oleh Masri. Namun,beliau malah marah dan mengusir sang anak. Sang anak pun pergi dan tak pernah kembali. Setelah kepergian sang anak, orang tua itu merasa sangat menyesal. Beliau pun menjual seluruh harta kekayaannya dan mewakafkannya pada orang banyak. Kemudian beliau pergi ke dusun yang jauh dan tinggal di masjid. Beliau menghabiskan hidupnya dengan beribadah,sambil terus berusaha untuk mengajak masyarakat di dusun itu hidup dengan damai. Begitu terus selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari, orang tua itu menerima surat dari sang anak,memintanya untuk datang ke rumah sang anak. Hatinya merasa ragu. Beliau merasa sangat malu. Sampai empat kali, surat itu terus datang,berisi permintaan yang sama. Tak satupun dibalasnya surat-surat itu. Akhirnya,setelah berpikir sekian lama, orang tua itu pun memutuskan untuk memenuhi permintaan sang anak. Dibuangnya semua rasa malu dan takut. Yang beliau harapkan kini hanyalah maaf dari sang anak. Namun, alangkah terkejutnya beliau ketika tiba di depan rumah sang anak. Mantan istrinya yang kedua,Iyah, yang telah diceraikan dan diusirnya ketika masih mengandung dulu, berdiri berkacak pinggang menyambutnya dengan muka masam. Iyah mengatainya dengan perkataan yang menyakitkan hati. Karena tak ingin bertengkar di rumah anaknya, orang tua itu menahan segala marah dan kesombongannya. Namun,akhirnya beliau dipersilakan masuk dengan terpaksa oleh Iyah. Kemudian, Iyah kembali mencercanya dengan berbagai macam sindiran. Sampai akhirnya, terungkaplah rahasia bahwa Arni,menantuny itu, adalah anak kandungnya. Artinya Masri dan Arni bersaudara. Orang tua itu terkejut dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki muda. olok-olokan itu diterima Pak Kari dengan sabar. Namun,suatu hari, kesabaran Pak Kari habis juga. Ia meledak marah ketika tukang rem lainnya mempermainkan topi helmnya. Sejak saat itu, tak ada satu pun orang yang mau mempermainkan topi helm Pak Kari. Namun,suatu pagi, Pak Kari melakukan kesalahan karena menyelamatkan topi helmnya. Ia meninggalkan gerbongnya dan mengambil topi helmnya yang terjatuh di tepi sungai. Orang-Orang mengira Pak Kari terjatuh dan tewas. Sang masinis memerintahkan agar kereta api kembali ke jembatan yang diperkirakan tempat Pak Kari terjatuh. Ternyata,beberapa meter dari jembatan itu, Pak Kari muncul dalam keadaan baik-baik saja. Tentu saja semua orang marah, terutama sang masinis. Bahkan, sang masinis melemparkan topi helm Pak Kari ke dalam api. Beberapa lama kemudian,orang-orang telah melupakan kejadian itu. Namun, tentu saja Pak Kari tak akan lupa pada topi helmnya. Topi yang membawa kebanggaan tersendiri bagi Kari merasa dendam, namun dendam itu disimpannya dalam hati. Suatu hari ketika sang masinis memeriksa pekerjaan Pak Kari yang sedang membersihkan tungku api di lok kereta,Pak Kari merasa ingin membalas dendam saat itu juga. Maka,ia melemparkan arang yang berpijar ke arah masinis itu. Dendamnya terbayar lunas,tanpa sedikitpun rasa bersalah dalam hatinya. Seorang kakek tua mendapat kiriman surat dari anak semata wayangnya. Dalamsuratnya, sang anak meminta ayahnya untuk berkunjung ke rumahnya. Sang anak mengabarkan bahwa ia telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Tentu tak terkira senang hati orang tua itu. Betapa tidak, anak yang dulu telah dibuangnya sia-sia malah mengundangnya untuk datang. Sedikit rasa malu dan sesal menyelinap dalam hatinya,mengingat masa lalunya yang kelam. Dulu,ketika anaknya,Masri,masih berumur tiga tahun,sang istri meninggal dunia. Betapa sedihnya hati orang tua itu. Ia merasa sangat kesepian. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menikah lagi. Namun,rumah tangga barunya tidak berjalan harmonis. Ia masih terkenang juga akan istri lamanya yang tercinta. Hal tersebut memicu konflik berkepanjangan. Hingga akhirnya,beliau menceraikan istri keduanya. Padahal, sang istri sedang mengandung. Setelah bercerai, orang tua itu menikah lagi. Lalu bercerai lagi. Menikah lagi,bercerai lagi. Sampai akhirnya, orang tua itu bosan menikah. Beliau akhirnya melakukan perbuatan terlarang dengan banyak wanita bayaran. Perbuatan orang tua itu akhirnya diketahui oleh Masri. Namun,beliau malah marah dan mengusir sang anak. Sang anak pun pergi dan tak pernah kembali. Setelah kepergian sang anak, orang tua itu merasa sangat menyesal. Beliau pun menjual seluruh harta kekayaannya dan mewakafkannya pada orang banyak. Kemudian beliau pergi ke dusun yang jauh dan tinggal di masjid. Beliau menghabiskan hidupnya dengan beribadah,sambil terus berusaha untuk mengajak masyarakat di dusun itu hidup dengan damai. Begitu terus selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari, orang tua itu menerima surat dari sang anak,memintanya untuk datang ke rumah sang anak. Hatinya merasa ragu. Beliau merasa sangat malu. Sampai empat kali, surat itu terus datang,berisi permintaan yang sama. Tak satupun dibalasnya surat-surat itu. Akhirnya,setelah berpikir sekian lama, orang tua itu pun memutuskan untuk memenuhi permintaan sang anak. Dibuangnya semua rasa malu dan takut. Yang beliau harapkan kini hanyalah maaf dari sang anak. Namun, alangkah terkejutnya beliau ketika tiba di depan rumah sang anak. Mantan istrinya yang kedua,Iyah, yang telah diceraikan dan diusirnya ketika masih mengandung dulu, berdiri berkacak pinggang menyambutnya dengan muka masam. Iyah mengatainya dengan perkataan yang menyakitkan hati. Karena tak ingin bertengkar di rumah anaknya, orang tua itu menahan segala marah dan kesombongannya. Namun,akhirnya beliau dipersilakan masuk dengan terpaksa oleh Iyah. Kemudian, Iyah kembali mencercanya dengan berbagai macam sindiran. Sampai akhirnya, terungkaplah rahasia bahwa Arni,menantuny itu, adalah anak kandungnya. Artinya Masri dan Arni bersaudara. Orang tua itu terkejut dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki muda. Nun,begitu namanya. Ia adalah seorang gadis mantan pejuang kemerdekaan. Kedua tangannya buntung akibat perang. Padahal, dulu ia sangat digemari oleh para lelaki. Para lelaki berlomba-lomba untuk mendapatkan cintanya. Setelah perang, ia tak lagi dipedulikan orang. Apalagi dengan keadaannya sekarang. Suatu hari,ia bertemu dengan Har, lelaki yang dulu dicintai dan mencintainya. Mereka bercakap-cakap mengenang masa lalu. Sementara itu, angin dari gunung bertiup di belakang mereka. Nun tahu, Har kini telah berkeluarga. Ia telah memiliki dua orang saja mereka tidak akan mungkin bersatu juga bercerita panjang lebar. Menceritakan masa lalu,juga harapan-harapannya yang telah pupus. Namun, Har diam saja. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam hatinya. Ia memang tak mencintai Nun lagi, tapi tentu saja ia merasa iba. Ia ingin menolong Nun, membawanya ke pusat rehabilitasi di Solo. Namun, Nun tidak mau. Ia tak ingin lagi dirinya mengalami hal seperti dulu lagi. Dipuja-puja,namun setelah tak dibutuhkan,dibuang saja. Har semakin gelisah. Apalagi Nun menyindirnya datanglah seorang gadis kecil memanggil Nun pulang. Har menatap kepergian Nun dan gadis kecil itu dengan perasaan hampa. Hanya angin dari gunung yang terasa meniup dirinya,Nun,dan gadis kecil itu.
Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Judul Robohnya Surau Kami Tahun Cetakan ke empat belas, Januari 2008 Penerbit Gramedia Pustaka Utama Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin. Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok. Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan. Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja. • Keagamaan berisi petuah untuk beribadah tanpa menginggalkan kewajiban untuk bermasyarakat dan bekerja. • Kepemimpinan berisi kisah kepala keluarga yang lalai dalam menjaga keluarganya. Navis pengarang ini seperti ingin mengingatkan kita yang seringkali berpuas diri dalam ibadah, tapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri. Kita rajin shalat, mengaji dan kegiatan ritual keagamaan lainnya karena kita takut masuk neraka. Kita menginginkan pahala dan keselamatan hanya untuk diri kita sendiri. Kita melupakan kebutuhan orang lain. Karenanya kita tidak merasa berdosa dan bersalah ketika mengambil hak orang lain, menyakiti perasaan sesama atau bahkan melakukan ketidakjujuran dan kemaksiatan di muka bumi. Beliau ingin mengajak kita menyeimbangkan antara hak dan kewajiban kita di mata Tuhan. Keselarasan harus tercipta karena itu adalah nyawa mengenai ketentraman hidup. • Latar Tempat kota, dekat pasar, di surau, dan sebagainya. • Latar Waktu Beberapa tahun yang lalu, pada suatu waktu. • Latar Sosial menggambarkan keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, kebiasaannya, cara hidup, dan bahasa. Alur cerpen Robohnya Surau Kami adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin. Sedangkan strukturnya berupa bagian awal, tengah, dan akhir. Adapun alur mundurnya mulai muncul di akhir bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir. a Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain. Tokoh ini begitu berperan karena sebar tau dalam cerpen ini. b Ajo Sidi berwatak orang yang suka membual. c Kakek berwatak orang yang egois dan lalai, mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain dan lemah imannya. d Haji Soleh berwatak orang yang terlalu mementingkan diri sendiri. Di dalam cerpen ini pengarang memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau acuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan Islam, seperti garin, Allah Subhanau Wataala, Alhamdulillah, Astagfirullah, Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, dosa dan pahala, Surga, Tuhan, beribadat menyembah-Mu, berdoa, menginsyafkan umat-Mu, hamba-Mu, kitab-Mu, Malaikat, neraka, haji, Syekh, dan Surau serta fitrah Id, juga Sedekah. Selain ini, pengarang pun menggunakan pula simbol dan majas. Simbol yang terdapat dalam cerpen ini tampak jelas pula judulnya, yakni Robohnya Surau Kami. Sedangkan majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang. Di dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. Gaya bahasanya sulit di pahami, gaya bahasanya menarik dan pemilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa dalam hal bidang keagaman. Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial. Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati. Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong. Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa. Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai- nilai dalam masyarakat. Keunggulan dari cerita robohnya surau kami terletak pada bagaimana Navis mengakhiri cerita dengan kejadian yang tak terduga, lalu pada teknik penceritaan yang tidak biasa pada saat itu, tidak biasanya karena Navis menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog antara tokoh manusia dengan Sang Maha Pencipta. Kelemahannya terletak pada gaya bahasa yang terlalu tinggi, sehingga sulit untuk dibaca.
Ringkasan novel Robohnya Surau Kami Robohnya Surau Kami Navis A. Ringkasan Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis ,Tuan akan berhenti di dekat pasar . Melangkah lah menyusuri jalan raya arah ke barat . Maka kira - kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampung ku . Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang orang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat . Sudah bertahun-tahun ia menjaga surau itu. Orang - orang biasa memanggilnya Kakek . Sebagai penjaga surau, kakek itu tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali sejumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantar kan fitrah ID kepadanya Kakek itu biasa di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaan nya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah meminta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan biasa yang biasa minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Dan para laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang juga uang. Tapi yang lebih sering diterimannya ialah ucapan terimah kasih dan sedikit memperlihatkan senyuman kepadanya. Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang . Ia sudah meninggal . Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Hingga terkadang anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala hal apa yang mereka sukai. Dan peremouan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopotin papan dinding atau lantai di malam hari. Jika orang lain datang sekarang , hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian surau tersebut yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat mungkin anak-anak yang bermain di dalamnya, secepat perempuan mencopoti sifat ketidak pedulian manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah cerita yang tak dapat diketahui tentang kebenarannya. B. Keunggulan Novel Keunggulan cerpen ini dari segi bahasa mudah dimengerti. Dari segi amanat cerpen ini memiliki pesan yang sangat religius dan dalam. B. Kelemahan Novel Kelemahan cerpen ini pemilihan kata masih banyak yang kurang baik. Dan dalam judulnya terdapat kata 'surau'. Kata surau’ identik dengan tempat beribadah umat muslim. Sehingga bagi pembaca awam yang memeluk agama non muslim merasa cerpen ini diperuntukan hanya untuk umat muslim saja. Jika ingin mengakses Ringkasan Novel Harimau-harimau Anda dapat menyalin link berikut
ringkasan cerita robohnya surau kami