sertamereguk kebahagiaan dalam Dhamma. Cerita terjadinya syair ini: 10. (206) Bertemu dengan para ariya adalah baik, tinggal bersama mereka merupakan suatu kebahagiaan, orang akan selalu berbahagia bila tak menjumpai orang bodoh. Cerita terjadinya syair ini: 11. (207) Seseorang yang sering bergaul dengan orang bodoh pasti akan meratap
LetakKebahagiaan adalah Di Hati. " Yang namanya kaya (ghina') bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina' adalah hati yang selalu merasa cukup. " (HR. Bukhari dan Muslim) Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang menempuh jalan yang salah dan keliru.
Home/ Artikel / Kesiapan Mental Dalam Menghadapi Pandemi Dari Perspektif Agama Buddha
KaraniyaMetta Sutta. Sutta Pengembangan Cinta Kasih. Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan. Untuk mencapai Keadaan Ketenangan
Syairtentang cinta kasih. 2. DHAMMAPADA. "Kata-kata dari Dhamma", kumpulan 423 bait dalam 26 vagga. 3. Sang Buddha menjawab pertanyaan-pertanyaan yakkha Alavaka mengenai kebahagiaan, pengertian, jalan ke Nibbana. Vijaya Sutta. Suatu analisa tubuh dalam bagian-bagian pokoknya (yang tidak bersih) dan sebutan bhikkhu yang mencapai Nibbana
PuisiBahasa Jawa. Puisi Perpisahan. Puisi Binatang. 2. Unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik puisi adalah unsur-unsur yang berada di luar puisi dan mempengaruhi kehadiran puisi sebagai karya seni. Adapun yang termasuk dalam unsur ekstrinsik puisi adalah aspek historis, psikologis, filsafat, dan religious.
SYAIRSYAIR PENDAMPING Sumber : Indonesia Tipitaka Center 1(7). Setelah mengalami berbagai macam penderitaan dan berbagai macam kebahagiaan dalam berbagai kehidupan500, aku meraih Pencerahan Mandiri yang luhur. 2(8). Setelah memberikan dana-dana yang sepatutnya diberikan501, setelah memenuhi sila secara keseluruhan, setelah melakukan Kesempurnaan dalam pelepasan, aku mencapai Pencerahan
BAITbait syair Al-Imam Asy-Syafi' rahimahullah yang bisa kita jadikan sebagai keteladanan di saat kondisi seperti sekarang ini: "Tak ada kesedihan yang kekal, tak ada kebahagiaan yang abadi. Tak ada kesengsaraan yang bertahan selamanya, pun demikian halnya dengan kemakmuran. (Beginilah keadaan hari demi hari, yang seharusnya mampu
SuttaPiį¹aka, berisi kumpulan syair-syair pendek. Kitab Dhammapada yang sangat populer, terdiri dari 423 syair dan dikelompokkan dalam 26 Bab. Dikatakan bahwa Buddha Yang Mahamulia membabarkan Dhamma dalam bentuk syair ini dalam 305 kesempatan. Dhammapada artinya jalan atau petunjuk Dhamma, Aį¹į¹hakatha artinya penjelasan.
Saį¹yuttaNikÄya. Kelompok Khotbah tentang MÄra. 4.7. Tidur. Pada suatu ketika, Sang BhagavÄ sedang menetap di RÄjagaha di Hutan Bambu, di Taman Suaka
Sdri seDhamma sekalian, demikianlah tadi uraian Dhamma tentang penderitaan dan kebahagiaan yang diambil dari Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, semoga de-ngan mengertinya kita terhadap ajaran tersebut, akan tampak semakin jelaslah tujuan akhir ki-ta tentang apa dan bagaimana yang dimaksud dengan kebahagiaan kekal yang sesungguhnya
VijjÄbhagiyÄ-Sutta (A. 1:61). "Dua Dhamma ini, oh para bhikkhu, mengambil bagian dalam kemunculan) pengetahuan. Apa saja keduanya? Samatha dan
Nibbanaadalah kebahagiaan yang tertinggi. Cerita terjadinya syair ini: 9. (205) Setelah mencicipi rasa penyepian dan ketentraman, maka ia akan bebas dari duka-cita dan tidak ternoda, serta mereguk kebahagiaan dalam Dhamma. Cerita terjadinya syair ini: 10. (206) Bertemu dengan para ariya adalah baik, tinggal bersama mereka merupakan suatu
DariWikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas. Wikipedia memiliki artikel yang berkaitan dengan: Dhammapada. Dhammapada ( bahasa Pali) atau Dharmapada ( bahasa Sanskerta) merupakan salah satu kitab suci Agama Buddha dari bagian Khuddaka NikÄya, yang merupakan salah satu bagian dari Sutta Pitaka. Dhammapada terdiri dari 26 vagga (bab
bergembiradi kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita. karena melihat perbuatannya sendiri yang bersih". (Dhammapada Yamaka-Vagga, syair 16) DOWNLOAD AUDIO. Semua makhluk mendambakan, menginginkan, mengidam-idamkan kebahagiaan terutama manusia. Manusia sangat mendambakan kebahagiaan itu sendiri, tetapi perlu diketahui setiap manusia
NU4eT. 1. 1 Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya. Cerita terjadinya syair ini⦠2. 2 Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya. Cerita terjadinya syair ini⦠3. 3 āIa menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya.ā Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir. Cerita terjadinya syair ini⦠4. 4 āIa menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya.ā Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir. Cerita terjadinya syair ini⦠5. 5 Kebencian tak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir, Bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi. Cerita terjadinya syair ini⦠6. 6 Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa, dalam pertengkaran mereka akan binasa; tetapi mereka, yang dapat menyadari kebenaran ini; akan segera mengakhiri semua pertengkaran. Cerita terjadinya syair ini⦠7. 7 Seseorang yang hidupnya hanya ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya tidak terkendali, yang makannya tidak mengenal batas, malas serta tidak bersemangat, maka Mara Penggoda akan menguasai dirinya. bagaikan angin yang menumbangkan pohon yang lapuk. Cerita terjadinya syair ini⦠8. 8 Seseorang yang hidupnya tidak ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya terkendali, sederhana dalam makanan, penuh keyakinan serta bersemangat, maka Mara Penggoda tidak dapat menguasai dirinya. bagaikan angin yang tidak dapat menumbangkan gunung karang. Cerita terjadinya syair ini⦠9. 9 Barang siapa yang belum bebas, dari kekotoran-kekotoran batin. yang tidak memiliki pengendalian diri, serta tidak mengerti kebenaran. sesungguhnya tidak patut, ia mengenakan jubah kuning. Cerita terjadinya syair ini⦠10. 10 Tetapi, ia yang telah dapat, membuang kekotoran-kekotoran batin, teguh dalam kesusilaan. memiliki pengendalian diri. serta mengerti kebenaran. maka sesungguhnya ia patut, mengenakan jubah kuning. Cerita terjadinya syair ini⦠11. 11 Mereka yang menganggap, ketidak-benaran sebagai kebenaran. dan kebenaran sebagai ketidak-benaran. maka mereka yang mempunyai, pikiran keliru seperti itu, tak akan pernah dapat, menyelami kebenaran. Cerita terjadinya syair ini⦠12. 12 Mereka yang mengetahui, kebenaran sebagai kebenaran. dan ketidak-benaran sebagai ketidak-benaran, maka mereka yang mempunyai, pikiran benar seperti itu, akan dapat menyelami kebenaran. Cerita terjadinya syair ini⦠13. 13 Bagaikan hujan, yang dapat menembus rumah beratap tiris. demikian pula nafsu, akan dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik. Cerita terjadinya syair ini⦠14. 14 Bagaikan hujan, yang tidak dapat menembus rumah beratap baik. demikian pula nafsu, tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik. Cerita terjadinya syair ini⦠15. 15 Di dunia ini ia bersedih hati. di dunia sana ia bersedih hati. pelaku kejahatan akan bersedih hati, di kedua dunia itu. ia bersedih hati dan meratap, karena melihat perbuatannya sendiri, yang tidak bersih. Cerita terjadinya syair ini⦠16. 16 Di dunia ini ia bergembira. Di dunia sana ia bergembira. Pelaku kebajikan, bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita karena, melihat perbuatannya sendiri yang bersih. Cerita terjadinya syair ini⦠17. 17 Di dunia ini ia menderita. Di dunia sana ia menderita. Pelaku kejahatan menderita di kedua dunia itu. Ia meratap ketika berpikir, āAku telah berbuat jahat,ā, dan ia akan lebih menderita lagi, ketika berada di alam sengsara. Cerita terjadinya syair ini⦠18. 18 Di dunia ini ia bahagia. Di dunia sana ia berbahagia. Pelaku kebajikan, berbahagia di kedua dunia itu. Ia akan berbahagia ketika berpikir, āAku telah berbuat bajikā, dan ia akan lebih berbahagia lagi, ketika berada di alam bahagia. Cerita terjadinya syair ini⦠19. 19 Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai ajaran, maka orang lengah itu, sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain. Ia tak akan memperoleh, manfaat kehidupan suci. Cerita terjadinya syair ini⦠20. 20 Biarpun seseorang sedikit membaca kitab suci, tetapi berbuat sesuai dengan ajaran, menyingkirkan nafsu indria, kebencian dan ketidaktahuan, memiliki pengetahuan benar, dan batin yang bebas dari nafsu, tidak melekat pada apapun, baik di sini maupun di sana; maka ia akan memperoleh, manfaat kehidupan suci. Cerita terjadinya syair iniā¦
Dhammapada Syair Kebahagiaan Sukha Vagga01/197 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa membenci, di antara orang-orang yang membenci. Di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa membenci. 02/198 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa penyakit, di antara orang-orang yang berpenyakit. Di antara orang-orang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit. 03/199 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, di antara orang-orang yang serakah. Di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan. Baca kisah perdamaian para kerabat Sang Buddha yang tengah berseteru . 04/200 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kita akan hidup bagaikan dewa brahma yang tinggal di alam cahaya. Baca kisah Mara menghasut para penduduk. 05/201 Kemenangan menimbulkan permusuhan, yang kalah hidup di dalam kesedihan. Kehidupan damai akan diperoleh dengan meninggalkan kemenangan dan kekalahan. Baca kisah kekalahan raja Pasenadi. 06/202 Tiada api yang menyamai nafsu, tiada kejahatan yang menyamai kebencian, tiada derita yang menyamai Lima Kelompok Kehidupan, tiada kebahagiaan yang menyamai Nibbana. Baca kisah sepasang pengantin baru. 07/203 Kelaparan adalah hal yang paling menyakitkan, Kelompok Kehidupan adalah sumber penyakit terparah, orang bijaksana yang mengetahui hal itu sebagaimana adanya, akan mencapai nibbana, kebahagiaan tertinggi. Baca kisah seorang upasaka. 09/205 Dengan merasakan penyepian dan kedamaian nibbana, seseorang yang meminum kenikmatan intisari Dhamma, akan bebas dari ketakutan dan kejahatan. Baca kisah biksu Tissa. 10/206 Adalah sangat baik bila bertemu dengan orang suci, hidup bersama mereka akan selalu menyenangkan, tidak bertemu dengan orang bodoh, juga adalah hal yang menyenangkan. 11/207 Ia yang berjalan bersama dengan orang-orang bodoh, akan berduka dalam waktu yang lama, hidup bersama orang-orang bodoh akan menyakitkan, bagaikan hidup bersama musuh, hidup bersama orang bijaksana akan membahagiakan, bagaikan hidup bersama sanak saudara. 12/208 Oleh karena itu, seseorang harus mengikuti orang-orang suci yang tegas, pandai, terpelajar, tekun, dan patuh, ikutilah orang yang suci dan bijaksana seperti itu, bagaikan bulan mengikuti peredaran bintang-bintang. Baca kisah Sakka, raja para dewa alam Trayastrimsa.
XV. KEBAHAGIAAN 1. 197 Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa benci. Cerita terjadinya syair ini⦠2. 198 Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang yang berpenyakit; di antara orang-orang yang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit. Cerita terjadinya syair ini⦠3. 199 Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah; di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan. Cerita terjadinya syair ini⦠4. 200 Sungguh bahagia hidup kita ini apabila sudah tidak terikat lagi oleh rasa ingin memiliki. Kita akan hidup dengan bahagia bagaikan dewa-dewa di alam yang cemerlang. Cerita terjadinya syair ini⦠5. 201 Kemenangan menimbulkan kebencian, dan yang kalah hidup dalam penderitaan. Setelah dapat melepaskan diri dari kemenangan dan kekalahan, orang yang penuh damai akan hidup bahagia. Cerita terjadinya syair ini⦠6. 202 Tiada api yang menyamai nafsu; tiada kejahatan yang menyamai kebencian; tiada penderitaan yang menyamai kelompok kehidupan khandha; dan tiada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada Kedamaian Abadiā nibbana. Cerita terjadinya syair ini⦠7. 203 Kelaparan merupakan penyakit yang paling berat. Segala sesuatu yang berkondisi merupakan penderitaan yang paling besar. Setelah mengetahui hal ini sebagaimana adanya, orang bijaksana memahami bahwa nibbana merupakan kebahagiaan tertinggi. Cerita terjadinya syair ini⦠8. 204 Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Nibbana adalah kebahagiaan yang tertinggi. Cerita terjadinya syair ini⦠9. 205 Setelah mencicipi rasa penyepian dan ketentraman, maka ia akan bebas dari duka-cita dan tidak ternoda, serta mereguk kebahagiaan dalam Dhamma. Cerita terjadinya syair ini⦠10. 206 Bertemu dengan para ariya adalah baik, tinggal bersama mereka merupakan suatu kebahagiaan, orang akan selalu berbahagia bila tak menjumpai orang bodoh. Cerita terjadinya syair ini⦠11. 207 Seseorang yang sering bergaul dengan orang bodoh pasti akan meratap lama sekali. Karena bergaul dengan orang bodoh adalah penderitaan seperti tinggal bersama musuh. Tetapi, siapa yang tinggal bersama orang bijaksana akan berbahagia, sama seperti sanak keluarga yang kumpul bersama. Cerita terjadinya syair ini⦠12. 208 Karena itu, ikutilah orang yang pandai, bijaksana, terpelajar, tekun, patuh dan mulia; hendaklah engkau selalu dekat dengan orang yang bajik dan pandai seperti itu, bagaikan bulan mengikuti peredaran bintang. Cerita terjadinya syair iniā¦
Skip to content Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kelima puluh dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada pertapa Paveyya dan seorang wanita kaya raya. Seorang wanita kaya raya dari Savatthi telah mengangkat Paveyya, seorang pertapa, sebagai anak angkatnya dan memenuhi semua kebutuhannya. Ketika dia mendengar para tetangganya memuji Sang Buddha, dia sangat berharap dapat mengundang beliau ke rumahnya untuk menerima dana makanan. Maka, Sang Buddha diundang ke rumah wanita tersebut dan makanan terpilih telah disiapkan. Ketika Sang Buddha menyampaikan anumodana, Paveyya, yang berada di ruang sebelah, menjadi sangat murka. Dia menyalahkan dan mengutuk wanita tersebut karena menghormati Sang Buddha. Wanita tersebut mendengar kutukan serta teriakannya dan menjadi sangat malu sehingga dia tidak dapat berkonsentrasi terhadap apa yang disampaikan oleh Sang Buddha. Sang Buddha berkata kepadanya agar tidak perlu memperhatikan kutukan-kutukan dan perlakuan tersebut, tetapi hanya pada perbuatan baik dan perbuatan buruk yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut Janganlah memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain atau hal yang sudah dikerjakan atau belum dikerjakan oleh orang lain. Sebaiknya seseorang memperhatikan hal-hal yang sudah dikerjakan atau belum dikerjakan oleh dirinya sendiri. Wanita kaya raya tersebut mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir. Sumber Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production Post navigation
syair dhammapada tentang kebahagiaan